Kamis, 08 Juli 2010
Jumat, 28 Agustus 2009
perpisahan Romo Siwi

AKHIRNYA PINDAH JUGA
“ Akhirnya pindah juga “ begitu kesan Romo Siwi pada saat acara perpisahan antara Romo N.Sukarno Siwi, Pr. dengan umat Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali tanggal 28 Juli 2009 di depan Aula gereja . Memang sebenarnya sudah beberapa kali ada kabar di kalangan umat bahwa Romo Siwi segera akan pindah tugas mengingat beliau sudah cukup lama bertugas di Paroki Boyolali , 6 tahun adalah waktu terlama bagi semua pastur paroki yang pernah bertugas di paroki Boyolali. Hal ini karena memang permintaan dari romo sendiri yang pada saat ditawari pindah oleh Uskup memohon untuk diberi waktu karena ada program Mandiri. Kemudian setelah Paroki Boyolali benar-benar disahkan sebagai Paroki mandiri maka romo Siwi pun merasa sudah siap untuk meninggalkan Boyolali.
Namun demikian ternyata masih banyak juga PR yang harus di selesaikan oleh Pastur yang akan menggantikannya, terutama akan ada banyak lingkungan yang tidak memiliki Prodiakon, hal ini karena banyak diakon akan mengakhiri masa tugasnya pada periode masa jabatan yang akan datang karena umur yang sudah tidak masuk dalam kategori menjadi prodiakon, tantangan ini harus dihadapi dengan melibatkan semaksimal mungkin generasi muda untuk dapat terlibat dalam pelayanan Gereja, Demikian juga dengan kinerja Dewan Paroki yang belum mencerminkan kerja Tim karena dalam pelaksanaan tugas biasanya hanya ketua saja atau beberapa orang saja yang dapat terlibat sehingga ini perlu dikembangkan sehingga pemberdayaan umat dapat berjalan. Namun demikian kinerja Dewan Paroki sudah menunjukkan perubahan menuju kepada kemajuan, hal ini setelah dilakukan Workshop Dewan Paroki yang sudah dilakukan dua kali, semoga hal ini akan dilakukan terus dimasa yang akan datang, seingga program kerja dapat dijalankan dan segala hambatan dapat dicarikan jalan keluarnya. Itulah yang dapat ditangkap dari uraian Romo N. Sukarno Siwi, Pr acara perpisahan itu, namun sebelumnya umat sudah menyampaikan kesan-kesannya pada romo melalui bapak ST.Suryadi, yang membagi kesan itu menjadi 3 bagian :
- Dalam tugas sebagai pastor paroki ( pemimpin umat )
- Tegas dalam setiap mengambil keputusan, berani mengatakan tidak bila memang dibutuhkan, tanpa basa basi.
- Selalu bersikap apa adanya (lugas) tanpa membedakan status dan kondisi umat.
- Selalu ingin memberdayakan kemampuan umat dalam ikut hidup menggereja, namun dari umat sendiri masih kurang memberikan respon positif.
- Mau mendengarkan pendapat umat yang menuju kearah kebaikan dalam memajukan paroki.
- Dalam peribadatan
- Khotbah (homili ) sistimatis dan mudah dipahami
- Khotbah (homili) dalam bahasa jawa memiliki daya tarik tersendiri terutama dalam menyampaikan istilah-istilah bahasa jawa sehingga umat tidak terlalu serius. ( sebenarnya karena romo yang kurang lancer berbahasa jawa )
- Tidak pernah menegur kalau situasi peribadatan kurang khidmad
- Dalam pergaulan sehari-hari
- Akrab dengan umat tanpa ada yang diistimewakan
- Selalu bersahaja dalam penampilan
- Dekat dengan kaum muda dan anak-anak, sering bercanda dengan memberi nama tambahan pada anak-anak
- Mau berbaur dengan warga sekitar RT/RW, sering menghabiskan waktu dengan menonton TV di luar, di tempatnya pak marju bersama warga sekitar, sehingga menjadi akrab dengan tetangga.
Demikian kesan mendalam yang disampaikan oleh bapak ST. Suryadi sebagai wakil umat, setiap umat memiliki kesan sendiri-sendiri namun pada garis besarnya adalah sama dengan yang diungkapkan tadi ” Bersahaja apa adanya ”
Dari Romo Herman walaupun baru saja hidup bersama dalam lingkungan Pasturan namun kesan yang ada selama bersama romo Siwi adalah karena memiliki kegemaran sama dalam menonton acara TV, dan kerajinannya memeriksa kunci-kunci pintu pada waktu malam sebelum tidur, namun terlebih juga sama dengan umat yang paling berkesan adalah tentang ” Kebersahajaannya”.
Itulah gambaran rangkaian perpisahan yang dilakukan cukup romantis.....karena kursi tata seperti di kafe-kafe sehingga terkesan santai, acara juga di selingi dengan persembahan lagu-lagu dari anak-anak, OMK, bapak-bapak dan ibu-ibu sampai dengan Romo Herman yang menyumbangkan lagu untuk romo siwi, dan acara diakhiri dengan Persembahan drama humor dari wilayah Maria Ratu dan pemberian kenang-kenangan dari Romo Herman, Dewan paroki, wilayah dan lingkungan serta dari OMK pada Romo Siwi, selamat jalan Romo semoga dapat berkarya di tempat baru paroki Medari, Yogyakarta semoga tetap setia dalam panggilan Imamat Romo. ( HDN )
Perpisahan Romo Siwi
AKHIRNYA PINDAH JUGA
“ Akhirnya pindah juga “ begitu kesan Romo Siwi pada saat acara perpisahan antara Romo N.Sukarno Siwi, Pr. dengan umat Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali tanggal 28 Juli 2009 di depan Aula gereja . Memang sebenarnya sudah beberapa kali ada kabar di kalangan umat bahwa Romo Siwi segera akan pindah tugas mengingat beliau sudah cukup lama bertugas di Paroki Boyolali , 6 tahun adalah waktu terlama bagi semua pastur paroki yang pernah bertugas di paroki Boyolali. Hal ini karena memang permintaan dari romo sendiri yang pada saat ditawari pindah oleh Uskup memohon untuk diberi waktu karena ada program Mandiri. Kemudian setelah Paroki Boyolali benar-benar disahkan sebagai Paroki mandiri maka romo Siwi pun merasa sudah siap untuk meninggalkan Boyolali.
Namun demikian ternyata masih banyak juga PR yang harus di selesaikan oleh Pastur yang akan menggantikannya, terutama akan ada banyak lingkungan yang tidak memiliki Prodiakon, hal ini karena banyak diakon akan mengakhiri masa tugasnya pada periode masa jabatan yang akan datang karena umur yang sudah tidak masuk dalam kategori menjadi prodiakon, tantangan ini harus dihadapi dengan melibatkan semaksimal mungkin generasi muda untuk dapat terlibat dalam pelayanan Gereja, Demikian juga dengan kinerja Dewan Paroki yang belum mencerminkan kerja Tim karena dalam pelaksanaan tugas biasanya hanya ketua saja atau beberapa orang saja yang dapat terlibat sehingga ini perlu dikembangkan sehingga pemberdayaan umat dapat berjalan. Namun demikian kinerja Dewan Paroki sudah menunjukkan perubahan menuju kepada kemajuan, hal ini setelah dilakukan Workshop Dewan Paroki yang sudah dilakukan dua kali, semoga hal ini akan dilakukan terus dimasa yang akan datang, seingga program kerja dapat dijalankan dan segala hambatan dapat dicarikan jalan keluarnya. Itulah yang dapat ditangkap dari uraian Romo N. Sukarno Siwi, Pr acara perpisahan itu, namun sebelumnya umat sudah menyampaikan kesan-kesannya pada romo melalui bapak ST.Suryadi, yang membagi kesan itu menjadi 3 bagian :
- Dalam tugas sebagai pastor paroki ( pemimpin umat )
- Tegas dalam setiap mengambil keputusan, berani mengatakan tidak bila memang dibutuhkan, tanpa basa basi.
- Selalu bersikap apa adanya (lugas) tanpa membedakan status dan kondisi umat.
- Selalu ingin memberdayakan kemampuan umat dalam ikut hidup menggereja, namun dari umat sendiri masih kurang memberikan respon positif.
- Mau mendengarkan pendapat umat yang menuju kearah kebaikan dalam memajukan paroki.
- Dalam peribadatan
- Khotbah (homili ) sistimatis dan mudah dipahami
- Khotbah (homili) dalam bahasa jawa memiliki daya tarik tersendiri terutama dalam menyampaikan istilah-istilah bahasa jawa sehingga umat tidak terlalu serius. ( sebenarnya karena romo yang kurang lancer berbahasa jawa )
- Tidak pernah menegur kalau situasi peribadatan kurang khidmad
- Dalam pergaulan sehari-hari
- Akrab dengan umat tanpa ada yang diistimewakan
- Selalu bersahaja dalam penampilan
- Dekat dengan kaum muda dan anak-anak, sering bercanda dengan memberi nama tambahan pada anak-anak
- Mau berbaur dengan warga sekitar RT/RW, sering menghabiskan waktu dengan menonton TV di luar, di tempatnya pak marju bersama warga sekitar, sehingga menjadi akrab dengan tetangga.
Demikian kesan mendalam yang disampaikan oleh bapak ST. Suryadi sebagai wakil umat, setiap umat memiliki kesan sendiri-sendiri namun pada garis besarnya adalah sama dengan yang diungkapkan tadi ” Bersahaja apa adanya ”
Dari Romo Herman walaupun baru saja hidup bersama dalam lingkungan Pasturan namun kesan yang ada selama bersama romo Siwi adalah karena memiliki kegemaran sama dalam menonton acara TV, dan kerajinannya memeriksa kunci-kunci pintu pada waktu malam sebelum tidur, namun terlebih juga sama dengan umat yang paling berkesan adalah tentang ” Kebersahajaannya”.
Itulah gambaran rangkaian perpisahan yang dilakukan cukup romantis.....karena kursi tata seperti di kafe-kafe sehingga terkesan santai, acara juga di selingi dengan persembahan lagu-lagu dari anak-anak, OMK, bapak-bapak dan ibu-ibu sampai dengan Romo Herman yang menyumbangkan lagu untuk romo siwi, dan acara diakhiri dengan Persembahan drama humor dari wilayah Maria Ratu dan pemberian kenang-kenangan dari Romo Herman, Dewan paroki, wilayah dan lingkungan serta dari OMK pada Romo Siwi, selamat jalan Romo semoga dapat berkarya di tempat baru paroki Medari, Yogyakarta semoga tetap setia dalam panggilan Imamat Romo. ( HDN )
Selasa, 25 Agustus 2009
Pelatihan jurnalistik untuk OMK
MENGGALI POTENSI KAUM MUDA
Seperti dikemukakan dalam setiap kesempatan bahwa hambatan terbesar bagi penerbitan Buletin Paroki adalah karena kurangnya sumber daya dan kurangnya tanggapan umat terhadap penerbitan Buletin. Atas dasar inilah maka Komsos dalam program kerjanya mencoba menggali potensi kaum muda untuk terlibat dalam pelayanan ini, yaitu dengan pelatihan Jurnalistik dan pelatihan Brochasting, untuk pelatihan Jurnalistik telah terlaksana pada tanggal 3 Agustus 2009 bertempat di Aula Gereja Hati tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali, dan untuk kegiatan pelatihan Brochasting akan dilakukan pada bulan September 2009.
Meskipun yang berminat pada pelatihan Jurnalistik tidak begitu sesuai dengan harapan, karena dari 30 orang yang diharapkan dapat mengikuti pelatihan ini, namun hanya sekitar 20 orang yang dapat hadir, terdiri dari 6 orang berasal dari Paroki Simo dan selebihnya dari Paroki Boyolali, sementara dari Ampel belum dapat berpartisipasi karena mungkin kurangnya informasi.
Dari pelatihan yang dipandu oleh teman teman Komsos Mas Wahyu, Mbak Kristin, Mbak Sisca, Pak Hardono, Mas Bertus, Pak Deo , Pak Jentot, Pak Harjono, dan Ketua bidang pewartaan Ibu YE Probojati menghadirkan nara sumber dari pengasuh Buletin Wani Mandiri yang diterbitkan oleh Perkumpulan Lestari Mandiri Boyolali ( Bapak Narang Srihartomo, SH) , Materi yang disampaikan adalah mengenai Dasar-dasar Jurnalistik khususnya tentang etika jurnalistik dan tehnik menulis berita, untuk menarik para peserta pada bagian pertengahan dari pelatihan di lakukan praktek menulis berita secara berkelompok kemudian didiskusikan, dari kegiatan ini memang sangat menunjukkan bahwa ternyata dari peserta tidak kesulitan dalam menulis berita, semua tulisan yang disampaikan bagus-bagus hanya perlu sedikit perbaikan. Pada bagian akhir dilakukan pemutaran Film karya Garin Nugroho yang tentu akan memberi inspirasi pada peserta untuk melihat realita kehidupan di lingkungan kita.
Bila kita mengikuti kegiatan ini maka ada optimisme bagi kita semua bahwa kita memiliki sumber daya yang berkualitas khususnya untuk penerbitan buletin paroki dan perhatian serta minat dari kaum muda cukup tinggi, dan itulah kiranya yang tergambar dari sambutan bapak Windu Purnomo yang sangat berterima kasih pada para peserta yang memiliki perhatian pada penerbitan buletin, ungkapan itu juga tersirat pada sambutan Romo Herman yang sejak awal memiliki perhatian pada kegiatan ini, menurut Romo Herman “ Ada yang lebih penting dari pengertian dalam jurnalistik yaitu jurnalistik Kristiani yaitu bagaimana kita mewartakan kabar gembira tentang keselamatan dari Yesus Kristus kepada semua orang “ hal ini sangat penting bagi kita agar kaum muda dapat mengembangkan diri menjadi pewarta-pewarta keselamatan kepada umat manusia. Seperti tema yang tertulis pada kaos yang dipakai oleh semua peserta “ OUR NEWS SAVE OUR FAITH “ Kabar kami adalah kabar keselamatan. Itulah yang akan dikembangkan dalam penerbitan buletin paroki.
Hasil dari kegiatan ini maka ada rencana tindak lanjut dengan memberi ruang pada buletin khusus untuk kaum muda dengan rubrik yang akan diberi judul Pojok Kaum Muda, yang bertanggung jawab untuk mengisi adalah kaum muda dalam kordinasi Komsos, dari sini diharapkan ada proses regenerasi yang baik untuk pengembangan Komsos. Kemudian juga realisasi dari pelatihan brochasting yang dari kesepakatan akan meminta bantuan Radio Meta FM, agar acanya dapat lebih menarik dan mengena pada tujuan untuk mengembangkan potensi kaum muda.
Itulah sekilas gambaran Pelatihan Jurnalistik Untuk OMK yang mendapat dukungan dari Keuskupan dan dari Paroki HTB SP Maria Boyolali, juga dari umat ( Sriwijaya ) berupa alat tulis dan dari Timbul Jaya motor yang menyumbang 2 sepanduk, atas , juga dari ibu-ibu dalam Bidang Pewartaan yang telah membantu memperlancar konsumsi, semua diucapkan terima kasih. ( Hasil kegiatan pelatihan jurnalistik )
Rabu, 15 Juli 2009
TIM REDAKSI
Pelindung
Romo Paroki
Penanggungjawab
FX Windu Purnomo
Wakil Ketua II Dewan Paroki
Pemimpin Umum
YE. Probojati
Bidang Pewartaan
Pimpinan Redaksi
A. Hardono
Komsos
Tim Redaksi
Rm.Herman Singgih Sutoro, Pr., F.Atok Dwiyono, FX. Warono,
P.Hardjono, St.S.Adi Yuwono, Wahyu, Maria E.P.D.N
Pembantu Redaksi Stasi Ampel
PF. Joko Mulyo, Drs. Suwanto,SH.
Pembantu Redaksi Paroki Simo
Y.Warsono,Y.Sutarsono, AM.Tulus Jadmiko, Y.Dwi Purnomo, L.Budi Wiyono
Tata letak/Cover/Ilustrasi
Jentot Suyono, Yusup Riyanto
Distributor
Y.de Deo Suratman, FX. Warono dan ketua-ketua lingkungtan
Sekretaris
Maria E.P.D.N
Bendahara
Albertus Sutrisno Adi
Alamat
Sekretariat Buletin Paroki
Jl. Merbabu No: 24 Boyolali
Telp. ( 0276 ) 321107
Sabtu, 04 Juli 2009
DONOR DARAH
Gb.Pak Budi Santoso sedang diambil darahnya
“Jika kita ingin mengetahui penyakit yang ada di dalam tubuh kita, tapi kita tidak memiliki dana untuk cek kesehatan ke Dokter …..jangan kawatir ……, ada jalan keluarnya…..” demikian dituturkan Dokter Wahyudi di sela-sela kegiatan “Donor Darah” yang secara rutin dilakukan di Gereja pada hari Minggu 21 Juni 2009 kerjasama PMI Boyolali dengan Tim Kerja Kesehatan Paroki HTB SP Meria Boyolali.
Lebih lanjut dokter Wahyudi menuturkan bahwa “ setiap kali kita Donor Darah, maka sebenarnya kita memiliki banyak keuntungan selain kita dapat membantu orang lain yang membutuhkan darah sebagai perwujudan cinta kasih kita pada sesama, kita juga mendapat pelayanan pemeriksaan darah geratis, karena setelah darah terkumpul di PMI,kemudian darah tersebut akan diteliti apakah dalam darah tersebut mengandung penyakit atau tidak, hasil dari pemeriksaan itu selalu dikirim kembali ke lembaga atau organisasi yang menyelenggarakan kegiatan donor darah, kemudian dari situ setiap orang yang melakukan donor darah akan mendapat penjelasan dari organisasi atau lembaga yang mengadakan donor darah. “ rupanya itu yang menjadi keuntungan dari donor darah, selain masih ada lagi beberapa keuntungan melakukan donor darah.
Gb: Tim PMI dan Kesehatan Paroki
Meskipun demikian masih sedikit orang yang bersedia untuk mendonorkan darahnya, mungkin saja karena belum mengetahui keuntungan-keuntungan itu. Pada acara donor darah pagi itu hanya beberapa orang saja dari sekitar 200 orang yang mengikuti misa pagi yang bersedia mampir di Aula Gereja tempat dilakukannya donor darah untuk melakukan donor darah, rupanya hanya orang-orang tertentu saja yang telah biasa melakukan donor darah seperti Pak Guritno, Pak Budi Santoso, Pak. Joko Dartiono, Pak Partono, Bu Ning, Mas Yusup dan beberapa rekan muda yang juga mendonorkan darahnya untuk sesama yang membutuhkan.
Gb: Pak Guritno sedang membetulkan perban agar darahnya tidak terus mengucur
Salut juga bagi beliau-beliau yang sudah tebiasa melakukan donor darah, karena mereka pasti melandasi kegiatan ini dengan dasar iman untuk saling tolong menolong dan membantu sesama yang membutuhkan seperti ajaran Kristus . Seperti yang diungkapkan Bapak Guritno, beliau selalu ikut mendonorkan darahnya setiap ada kegiatan kegiatan donor darah dimana saja tidak hanya di Gereja saja, dan awal dari donor darah yang dilakukan pada waktu masih sekolah ketika salah satu temannya membutuhka darah dan beliau dimintai untukmemberikan darahnya, kemudian setelah itu beliau selalu terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan darah O maka beliau pasti mau memberinya.Demikan cerita Pak Guritno sambil berulangkali menikmati minuman yang disediakan panitia dalam 1 paket ( Mie Instan, Telur,Minuman,dan makanan ) diberikan pada semua pendonor. Kiranya ini patut kita teladani di usia 64 tahun beliau masih dalam keadaan sehat dan bersemangat membantu yang membutuhkan.
Utuk saat ini stok darah di PMI yang menipis adalah golongan darah O dan yang berlebih adalah Golongan darah B, maka bila ada yang berminat bisa juga langsung ke PMI Boyolali.
Dari Tim Kesehatan yang hadir adalah ibu Ning, Mas Sugeng, Mbak Yus dan beberap lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu, kelihatan juga Romo Herman juga memberi semangat pada umat dan petugas yang melakukan kegiatan ini. ( HDN/Tim Kesehatan Paroki )

