Jumat, 28 Agustus 2009

Perpisahan Romo Siwi

AKHIRNYA PINDAH JUGA

“ Akhirnya pindah juga “ begitu kesan Romo Siwi pada saat acara perpisahan antara Romo N.Sukarno Siwi, Pr. dengan umat Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Boyolali tanggal 28 Juli 2009 di depan Aula gereja . Memang sebenarnya sudah beberapa kali ada kabar di kalangan umat bahwa Romo Siwi segera akan pindah tugas mengingat beliau sudah cukup lama bertugas di Paroki Boyolali , 6 tahun adalah waktu terlama bagi semua pastur paroki yang pernah bertugas di paroki Boyolali. Hal ini karena memang permintaan dari romo sendiri yang pada saat ditawari pindah oleh Uskup memohon untuk diberi waktu karena ada program Mandiri. Kemudian setelah Paroki Boyolali benar-benar disahkan sebagai Paroki mandiri maka romo Siwi pun merasa sudah siap untuk meninggalkan Boyolali.

Namun demikian ternyata masih banyak juga PR yang harus di selesaikan oleh Pastur yang akan menggantikannya, terutama akan ada banyak lingkungan yang tidak memiliki Prodiakon, hal ini karena banyak diakon akan mengakhiri masa tugasnya pada periode masa jabatan yang akan datang karena umur yang sudah tidak masuk dalam kategori menjadi prodiakon, tantangan ini harus dihadapi dengan melibatkan semaksimal mungkin generasi muda untuk dapat terlibat dalam pelayanan Gereja, Demikian juga dengan kinerja Dewan Paroki yang belum mencerminkan kerja Tim karena dalam pelaksanaan tugas biasanya hanya ketua saja atau beberapa orang saja yang dapat terlibat sehingga ini perlu dikembangkan sehingga pemberdayaan umat dapat berjalan. Namun demikian kinerja Dewan Paroki sudah menunjukkan perubahan menuju kepada kemajuan, hal ini setelah dilakukan Workshop Dewan Paroki yang sudah dilakukan dua kali, semoga hal ini akan dilakukan terus dimasa yang akan datang, seingga program kerja dapat dijalankan dan segala hambatan dapat dicarikan jalan keluarnya. Itulah yang dapat ditangkap dari uraian Romo N. Sukarno Siwi, Pr acara perpisahan itu, namun sebelumnya umat sudah menyampaikan kesan-kesannya pada romo melalui bapak ST.Suryadi, yang membagi kesan itu menjadi 3 bagian :

  1. Dalam tugas sebagai pastor paroki ( pemimpin umat )
    • Tegas dalam setiap mengambil keputusan, berani mengatakan tidak bila memang dibutuhkan, tanpa basa basi.
    • Selalu bersikap apa adanya (lugas) tanpa membedakan status dan kondisi umat.
    • Selalu ingin memberdayakan kemampuan umat dalam ikut hidup menggereja, namun dari umat sendiri masih kurang memberikan respon positif.
    • Mau mendengarkan pendapat umat yang menuju kearah kebaikan dalam memajukan paroki.
  2. Dalam peribadatan
    • Khotbah (homili ) sistimatis dan mudah dipahami
    • Khotbah (homili) dalam bahasa jawa memiliki daya tarik tersendiri terutama dalam menyampaikan istilah-istilah bahasa jawa sehingga umat tidak terlalu serius. ( sebenarnya karena romo yang kurang lancer berbahasa jawa )
    • Tidak pernah menegur kalau situasi peribadatan kurang khidmad
  3. Dalam pergaulan sehari-hari
    • Akrab dengan umat tanpa ada yang diistimewakan
    • Selalu bersahaja dalam penampilan
    • Dekat dengan kaum muda dan anak-anak, sering bercanda dengan memberi nama tambahan pada anak-anak
    • Mau berbaur dengan warga sekitar RT/RW, sering menghabiskan waktu dengan menonton TV di luar, di tempatnya pak marju bersama warga sekitar, sehingga menjadi akrab dengan tetangga.

Demikian kesan mendalam yang disampaikan oleh bapak ST. Suryadi sebagai wakil umat, setiap umat memiliki kesan sendiri-sendiri namun pada garis besarnya adalah sama dengan yang diungkapkan tadi ” Bersahaja apa adanya ”


Dari Romo Herman walaupun baru saja hidup bersama dalam lingkungan Pasturan namun kesan yang ada selama bersama romo Siwi adalah karena memiliki kegemaran sama dalam menonton acara TV, dan kerajinannya memeriksa kunci-kunci pintu pada waktu malam sebelum tidur, namun terlebih juga sama dengan umat yang paling berkesan adalah tentang ” Kebersahajaannya”.

Itulah gambaran rangkaian perpisahan yang dilakukan cukup romantis.....karena kursi tata seperti di kafe-kafe sehingga terkesan santai, acara juga di selingi dengan persembahan lagu-lagu dari anak-anak, OMK, bapak-bapak dan ibu-ibu sampai dengan Romo Herman yang menyumbangkan lagu untuk romo siwi, dan acara diakhiri dengan Persembahan drama humor dari wilayah Maria Ratu dan pemberian kenang-kenangan dari Romo Herman, Dewan paroki, wilayah dan lingkungan serta dari OMK pada Romo Siwi, selamat jalan Romo semoga dapat berkarya di tempat baru paroki Medari, Yogyakarta semoga tetap setia dalam panggilan Imamat Romo. ( HDN )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar